25 April 2013

Perempuan, peran dan tanggungjawab (2)


                Perempuan adalah bagian dari ciptaan Tuhan yang indah. Dari sisi ini, ia tak berbeda dengan jenis laki-laki yang bergerak menuju kepada kesempurnaan insani. Islam meyakini bahwa perempuan di masyarakat yang sehat harus dibekali kemampuan yang selayaknya dan diberi peluang untuk memegang tanggungjawab dan ambil bagian dalam membantu kemajuan sains, sosial, pembangunan dan kepemimpinan dunia. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. manusia, tanpa memandang gender, diciptakan untuk melangkah kepada kesempurnaan insani dan menghias diri dengan kemuliaan dan sifat-sifat terpuji. Fatimah Az-zahrah (as) adalah wanita teladan sepanjang sejarah kemanusiaan.
            Ayatullah khamenei, mengenai peran wanita di tengah masyarakat mengatakan “ kitab suci Al-Qur’an ketika menyifati manusia-manusia yang baik dan buruk membawa contoh dua macam perempuan. hal ini menunjukkan bahwa Islam ingin meluruskan pemahaman yang keliru tentang perempuan dan menjelaskan kedudukan kemanusiaan perempuan sebenarnya. Islam menginginkan perkembangan pemikiran, keilmuan, sosial,politik dan lebih penting dari itu adalah perkembangan kemuliaan spiritual bagi kaum hawa sampai kederajat tertinggi. Eksistensi perempuan membawa manfaat sangat besar bagi keluarga dan masyarakat kemanusiaan.
            Menurut Rahbar, harus ada perbedaan antara posisi perempuan di sektor ilmiah, budaya,sosial, dan penurunan posisinya sehingga untuk kepentingan politik dan individu. kehormatan kaum perempuan dijaga, hal tersebut akan menjadi landasan yang kokoh dalam perkembangan mereka tanpa harus kehilangan identitas sebagai perempuan dan peran mereka sebagai pembimbing. Dalam perspektif islam, tidak ada pihak lain yang dapat menggantikan posisi perempuan sebagai ibu istri. kelanggengan species manusia dan perkembangan potensinya sangat berkaitan erat dengan kasih sayang dan pengorbanan ibu. Dengan kasih sayang itulah yang mengubah riak gelombang kehidupan menjadi ketenangan dan ketentraman dalam lingkungan keluarga.
            Dalam revolusi islam, kaum perempuan dengan tetap menjaga peran mereka sebagai pembimbing dan ibu masuk ke berbagai sektor sosial. Peningkatan relatif para cendikiawan, peneliti, dan pengajar para perempuan di berbagai cabang ilmu, membuktikan keberhasilan perspektif islam terhadap perempuan. Rahbar menegaskan, poin pentingnya adalah bahwa dewasa ini, dalam negara islam mencul banyak perempuan genius yang aktif di bidang pemikiran, ilmiah, juga para pengamat di bidang budaya dan seni, padahal mereka beraktifitas dengan tetap mengenakan hijab. Masalah ini merupakan perbandingan terhadap pendapat sejumlah pihak bahwa hijab bertentangan dengan kesempurnaan.
            Ayatullah Khamenei menilai keberhasilan kaum perempuan Iran imbas dari perhatian mereka terhadap nilai-nilai etika, spiritual dan kesucian dalam aktifitas mereka sehari-hari. Beliau menekankan ”pembatasan yang ada dalam pemerintah islam tidak bertentangan dengan fitrah dan kriteria perempuan”. pembatasan tersebut juga terjadi pada kaum laki-laki dalam bentuk yang berbeda. Hal ini menurut beliau membantu mencegah penyia-nyiaan tenaga kaum laki-laki dan perempuan.
            Dalam pertemuan beliau dengan cendikiawan perempuan Iran, Rahbar mengatakan bahwa mereka memikul tanggungjawab yang cukup berat yaitu membenarkan perspektif tentang laki-laki dan perempuan yang berupaya ditebar oleh Barat. Karena perspektif ini akan menghancurkan tatanan sosial masyarakat.
         
Sumber: Lanjutan Catatan Senior saya dengan tema: "Perempuan, peran dan tanggungjawab" 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar